Pengembara Gila yang mencari sesuatu atas nama Cinta

Motivasi Menulis

Seperti Kuah seblak yang beraneka rasa tapi tetap dicumbu jua


(Aku nyeblak maka aku ada)
 

Seperti kuah seblak yang beraneka rasa namun tetap dicumbu lidah, begitulah kenangan kadang tidak selalu manis, namun selalu menemukan jalan untuk dirindukan. 

Manusia yang paling beruntung adalah mereka yang hidup di abad ke-21 karena jika menyelam ratusan tahun ke belakang, banyak sekali peristiwa-peristiwa bersejarah yang erat kaitanya dengan kuliner khas satu ini (red: Seblak). 

Menurut wikipaedi seblak adalah makanan sejenis kerupuk-kerupukan yang di olah dengan beraneka ragam rempa-rempah. Melansir hal itu dengan demikian perlu kita garis bawahi kalau seblak erat kaitanya dengan rempah-rempah.

Seandainya saya boleh mengeluarkan teori liar, apakah mungkin kedatangan bangsa eropa ke nusantara salah satunya adalah mencari seblak. 

Hanya saja pada saat itu orang-orang di nusantara belum mengabadikan resep-resep pembuatan seblak pada selembar kertas putih yang ditulis dengan tinta pesan damai. Dengan kata lain catatan kuno tentang seblak masih  jarang sekali ditemukan.

saya ingat waktu kuliah dulu dosen saya becerita bahwa kedatangan bangsa eropa ke nusantara salah satunya adalah untuk mencari rempah.

“yeuh barudak regepkeun. di urang mah taneuh teh suburna kabina-bina naon wae anu dipelak pasti jadi, beda jeung di rusia ek melak salam sereh ge hararese”

jika kita membaca kembali sejarah kuno nusantara salah satunya Prasasti Jenggolo / Prasasti Waharu I (929 Masehi) yang ditulis dalam bahasa sansakerta disitu dijelaskan panjang lebar tentang masakan atau kuliner khas jawa bagian timur hanya saja ada bagian yang kurang lengkap. 

Apakah mungkin bagian yang kurang lengkap itu berhubungan dengan seblak yang kita kenal sekarang ini ?

Dewasa kini seblak begitu menjamur di berbagai tempat. sepanjang jalan raya yang kita lalui pasti kita pernah setidaknya sekali dalam seumur hidup melihat kedai seblak. Mulai dari tempat yang kecil hingga skala besar yang memonopoli pasar. 

Melihat fenomena tersebut saya berpendapat bahwa seblak setidak-tidaknya menggerakan perputaran ekonomi indonesia berkisar 1% sampai 5%. Melihat data yang demikian bukan tidak mungkin seblakk juga mengubah kebiasaan manusia dalam bersosialisasi.

Dulu dalam hal pertemanan ataupun asmara, ada beberapa pertanyaan yang lumrah untuk dilontaarkan saat kita berkomunikasi. 

Sabtu ini kita ke bioskop yu ? nanti kita ke pasar malam yu? Nanti kita ke toko baju yu? Sekilas hal itu sangat wajar terdengar, namun belakangan hal yang paling tidak diperhitungkan kepopuleranya adalah nanti kita nyeblak yu.? seblak yang enak sebelah mana ya ?  seblaknya kuah atau kering ya ? seblaknya ambil sendiri atau yang paket ? dll.

Saya jadi teringat 7 tahun yang lalu saat saya masih muda banget. pernah satu ketika lagi dekat dengan seseorang. Entah ada angin darimana dia menyetujui saat saya ajak untuk menikmati seporsi seblak. 

Cuaca mendung yang mendukung dan tempat yang katanya “ramai”. Pada dasarnya saya tidak peduli seblak jenis apa yang akan aku nikmati hari itu, yang jelas 45 menit saat menunggu seblak terhidang adalah waktu yang paling berharga. 

Hal itu kami manfaatkan untuk bercerita satu sama lain, mulai dari hal yang sederhana seputar hobi hingga agenda kegiatan Roschlid family. Masa yang singkat itu akhirnya terlewati, seblak yang aku dan dia pesan sudah tiba. 

Jujur saat pertama kali mencicipinya muncul pertanyaan dalam benak saya, “Makanan jenis apa ini, rasanya lidah dan perut saya sedikit berontak menerimanya” sejauh yang saya nikmati, rasanya tidak terlalu buruk.

Setelah tujuh tahun berlalu, saya masih belum bisa memastikan apakah yang membuat seblak terasa istimewa saat itu adalah rasanya atau suasananya. 

Sebab jika ditanya sekarang, saya hampir tidak mengingat topping apa yang saya pilih, seberapa pedas kuahnya, atau berapa harga seporsinya. Yang masih tersisa justru obrolan-obrolan sederhana, tawa yang muncul di sela menunggu pesanan datang, dan perasaan nyaman yang sulit dijelaskan. 

Mungkin memang begitu cara kenangan bekerja; makanan hanyalah alasan, sedangkan kebersamaanlah yang menjadi tujuan. Seblak itu akhirnya habis dalam hitungan menit, tetapi cerita yang menyertainya ternyata mampu bertahan hingga bertahun-tahun. 

Dan kini, ketika seblak menjadi begitu populer dan sering dijadikan tujuan pertemuan, saya sadar bahwa terkadang yang dicari orang bukanlah semangkuk seblak, melainkan seseorang yang bersedia duduk di seberang meja dan menghabiskan waktu bersama.

 


Seperti Kuah seblak yang beraneka rasa tapi tetap dicumbu jua

(Aku nyeblak maka aku ada)   Seperti kuah seblak yang beraneka rasa namun tetap dicumbu lidah, begitulah kenangan kadang tidak selalu mani...

Back To Top